Nirvana Fallacy

menolak solusi yang baik hanya karena solusi itu tidak sempurna

Nirvana Fallacy
I

Mari kita bayangkan skenario sederhana ini. Kita sudah bertekad untuk hidup lebih sehat. Senin sampai Rabu, kita disiplin menjaga makan. Lalu tibalah Kamis sore yang mendung, ada teman kantor membawa sekotak martabak manis. Kita goyah, lalu mencomot satu potong. Sesaat setelah mengunyah, tiba-tiba otak kita berbisik keras: "Wah, diet minggu ini sudah gagal total. Ya sudahlah, makan lima potong saja sekalian." Pernahkah kita mengalami hal semacam itu? Saya yakin kita semua pernah merasakannya. Kita membuang seluruh progres baik yang sudah dibangun berhari-hari, hanya karena satu celah kecil yang tidak sempurna. Tentu saja, ini bukan cuma soal urusan martabak dan diet. Pola pikir ini merayap masuk ke dalam keputusan hidup kita, cara kita berdebat, sampai cara kita merespons perkembangan sains. Ada sebuah sistem di dalam kepala kita yang diam-diam menyabotase pikiran kita sendiri.

II

Ratusan tahun lalu, filsuf Prancis bernama Voltaire menulis sebuah kutipan yang sangat menohok. Dia menulis, "Yang sempurna adalah musuh dari yang baik." Tapi pertanyaannya, mengapa otak kita suka sekali menuntut kesempurnaan? Kalau kita mundur sedikit ke sejarah evolusi manusia, kita akan menemukan bahwa otak manusia purba sangat menyukai hal-hal yang pasti. Hitam atau putih. Aman atau bahaya. Di padang sabana ribuan tahun lalu, menebak-nebak apakah seekor harimau itu sedang kenyang atau sangat lapar adalah sebuah pemborosan kalori otak. Otak kita sangat membenci cognitive load atau beban pikiran ekstra untuk memproses nuansa abu-abu. Akibatnya, kita berevolusi menjadi makhluk yang ingin serba instan dalam menilai. Kita merasa jauh lebih aman menolak sesuatu secara penuh, jika sesuatu itu tidak seratus persen menjamin keamanan atau kesuksesan.

III

Sayangnya, insting purba untuk mencari kepastian absolut ini justru menjadi bumerang di dunia modern yang serba kompleks. Mari kita lihat isu yang lebih besar di sekitar kita. Ingatkah teman-teman saat masa pandemi kemarin? Banyak orang menolak divaksinasi dengan dalih, "Orang yang divaksin tetap bisa kena virus kok, buat apa divaksin?" Atau dalam isu krisis iklim. Kita sering mendengar orang mencibir transisi ke kendaraan listrik dengan argumen, "Sama saja bohong, listriknya kan tetap dari pembangkit batu bara." Di titik ini, kita seolah sedang diajak bermain tebak-tebakan oleh otak kita sendiri. Jika sebuah solusi tidak bisa menyelesaikan masalah sampai ke akarnya secara seratus persen, maka solusi itu seketika dianggap tidak berguna. Tapi, benarkah kenyataannya sesederhana itu? Mengapa kita begitu mudah dibutakan oleh ilusi kesempurnaan, sampai-sampai kita rela membuang sebuah solusi logis yang sebenarnya bisa menyelamatkan kita?

IV

Di sinilah ilmu logika dan psikologi memberikan jawaban yang sangat melegakan untuk kita pelajari. Fenomena yang sedang kita bedah ini memiliki nama resmi: Nirvana Fallacy. Sederhananya, ini adalah sebuah kesesatan berpikir di mana kita menolak hal yang baik di dunia nyata, hanya karena kita membandingkannya dengan kondisi ideal yang tidak nyata, alias "Nirvana". Dalam kacamata psikologi klinis, kecacatan logika ini sangat erat kaitannya dengan all-or-nothing thinking atau pemikiran hitam-putih. Ini adalah salah satu bentuk distorsi kognitif yang paling umum menjangkiti manusia. Ketika kita terjebak dalam Nirvana Fallacy, kita menetapkan standar surgawi yang mustahil sebagai satu-satunya patokan. Jika sebuah aturan medis bisa menyelamatkan 80% nyawa, otak yang terkena jebakan ini hanya akan fokus pada 20% nyawa yang tidak tertolong, lalu menyimpulkan bahwa aturan itu gagal total. Kita menolak kebaikan yang nyata di depan mata, murni karena kebaikan itu memakai baju yang sedikit kotor. Padahal, sejarah peradaban dan sains empiris membuktikan satu hal: kemajuan tidak pernah lahir dari kesempurnaan yang turun dari langit, melainkan dari eksperimen berantakan yang terus direvisi.

V

Menyadari bahwa kita sering terjebak dalam kesesatan berpikir ini adalah langkah pertama yang luar biasa. Kita tidak perlu merasa bersalah, karena toh ini hanyalah bug bawaan dari pabrik evolusi biologi kita. Tapi sekarang, teman-teman, kita punya kesadaran untuk memilih. Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita melihat dunia dan mengevaluasi masalah. Daripada kita bertanya "Apakah solusi ini sempurna?", mari kita biasakan diri untuk bertanya "Apakah solusi ini lebih baik dari kondisi sebelumnya?". Mengurangi daging sehari dalam seminggu mungkin tidak langsung menghentikan pemanasan global, tapi itu jauh lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa. Berolahraga sepuluh menit jauh lebih baik daripada tidak beranjak dari kasur sama sekali. Dunia ini tidak membutuhkan pahlawan tanpa cela yang tinggal di Nirvana. Dunia ini, dan kehidupan pribadi kita, hanya membutuhkan perbaikan-perbaikan kecil yang tidak sempurna, namun dilakukan secara terus-menerus. Karena pada akhirnya, sebuah progres yang berantakan akan selalu mengalahkan kesempurnaan yang tidak pernah dimulai.